Home arrow Zapfinpedia arrow Publications by ZAP Finance arrow Menyeimbangkan Portofolio

Menyeimbangkan Portofolio E-mail

oleh: Prita H. Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP®

Dimuat di KONTAN Minggu IV, November 2009, hal.20

Berinvestasi bukan berarti Anda tutup mata dan membiarkan pasar menentukan nilai kekayaan Anda. Kalau sudah punya portfolio investasi, penting juga untuk lakukan portfolio rebalancing. Apa itu? Simak penjelasan singkat berikut.

Apa itu? Portfolio rebalancing adalah proses untuk mengembalikan alokasi tabungan, deposito, obligasi, dan saham ke proporsi yang tepat sesuai karakter dan tujuan bila terjadi perubahan. Jadi, istilahnya rebalancing adalah bagaimana aset-aset itu harus menari agar antara tujuan dan karakter tetap seimbang.

Misalnya, berdasarkan profil resiko moderat, jangka waktu investasi dan tujuan finansial, portofolio investasi Anda berisikan 15% tabungan, 35% obligasi, 10% emas, dan 40% saham. Anggaplah total modal investasi sebesar 100 juta. Jadi, rasio aset defensif terhadap agresif adalah 50:50.

Nah, setelah 6 bulan ternyata pasar saham menunjukkan kegairahan sehingga nilai investasi saham Anda sekarang 60 juta. Mungkin Anda bilang, apa masalahnya? Sekarang total investasi saya jadi 120 juta, atau naik 20 juta. Masalahnya, alokasi investasi Anda sekarang jadi, 41:59. Sudah bergerak hampir 10% dari alokasi ideal dan toleransi resiko yang dapat Anda terima.

Bila Anda tetap mempertahankan profil resiko moderat, maka ada beberapa teknik yang dilakukan: Pertama, Anda bisa jual beberapa lot saham senilai 10 juta yang mengalami peningkatan signifikan dan mengalihan investasinya ke deposito atau obligasi. Kedua, Anda bisa memasukkan investasi baru senilai 20 juta di kelas aset yang alokasinya kurang, dalam hal ini bisa deposito atau obligasi.

http://zapfin.com/images/stories/tabel_kontan_ivnov.png

Sebagai patokan umum, saya selalu melakukan rebalancing bila proporsi salah satu aset bergerak hingga 10% dari alokasi ideal. Alternatif lain, bila ternyata saldo yang saya butuhkan untuk sebuah tujuan finansial sudah tercapai. Misalnya, saya investasi karena ingin liburan ke Eropa. Awal tahun 2007 saya investasi di saham, kemudian saat bulan Oktober nilainya sudah naik hampir 50%. Karena cukup untuk biaya liburan, saya jual saham tersebut dan masukkan ke deposito.

Teknik dogs of the dow
Selain antar kelas aset, rebalancing dapat juga dalam kelas aset yang sama. Misalnya diantara portofolio saham Anda. Khusus untuk ini, ada satu teknik yang cukup populer di AS namanya dogs of the dow diambil dari indeks Dow Jones Average. Teknik ini menggunakan indikator dividend yield sebagai perangkatnya.

Sedikit menjelaskan, dividend yield diperoleh dari membagi berapa jumlah dividen tahunan per lembar saham dibagi harga per lembar saham. Jadi, misal dividen tahunan Rp. 100/lembar saham dan harganya Rp. 10,000/lembar saham, maka yieldnya adalah 1%. Beberapa surat kabar terkemuka menampilkan kolom ini di bagian harga saham. Sebuah saham yang memiliki dividend yield tinggi dianggap masih undervalued atau harganya kelewat murah dibandingkan instrinsic value nya.

Begini cara kerjanya. Pertama, setiap tahun Anda lihat daftar saham yang masuk LQ-45 atau Kompas 100 (teknik aslinya adalah 30 saham di the Dow). Lalu, cari 10 saham dengan dividend yield tertinggi. Lakukan investasi reguler setiap bulan dalam jumlah yang sama (misalnya per bulan 1 lot untuk masing-masing saham). Kedua, setelah setahun, Anda jual saham yang sudah tidak masuk daftar 10 tertinggi. Ketiga, Anda beli saham yang menggantikan posisinya dengan uang hasil jual saham sebelumnya.

Bila keadaan pasar sangat sesuai dengan seluruh rencana keuangan Anda, maka tidak ada masalah! Tapi, ingat kejadian tahun 2008? Di tahun 2007, IHSG naik hampir mencapai 60%. Sehingga, akhir tahun 2007, investor pemula (yang sebetulnya berprofil konservatif) nekat beli saham atau reksadana saham dengan iming-iming kinerja masa lalu yang super hebat.

Namun, tahun 2008, IHSG melorot hingga 50an%. Jika saat porsi alokasi mulai berubah antara 5% sampai 10% dari ideal dan Anda lakukan rebalancing, maka potensi rugi hingga 50% dapat dikurangi. Kejadiannya, beberapa teman-teman tidak tahan melihat nilai investasi yang terus melorot dan pilih untuk jual rugi di akhir tahun 2008. Karena Anda tidak bisa meramal masa depan, maka lakukan rebalancing.

Jadi, sebagai investor, wajib tahu karakter investasi kita dan punya alokasi portofolio yang ideal. Portfolio rebalancing merupakan bagian penting dari rencana investasi yang dilakukan secara berkala melalui proses monitor setidaknya 6 bulan sekali. Semoga bermanfaat. Make your finance alive. Live a beautiful life!

 

 

Log In / Sign Up